Wawasan

Pelajari lebih dalam berbagai kisah dan inspirasi kreatif

Kembali ke Artikel RAPAT KERJA PERDANA GEKRAF LUMAJANG PERIODE 2026-2029

RAPAT KERJA PERDANA GEKRAF LUMAJANG PERIODE 2026-2029

Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (Gekrafs) DPC Lumajang resmi menggelar rapat kerja perdana setelah terbentuknya struktur organisasi baru untuk periode 2026 hingga 2029 pada tanggal 6 juni 2026. Momentum krusial ini dihadiri oleh jajaran pengurus baru yang membawa semangat segar untuk menghidupkan kembali denyut nadi industri kreatif di wilayah Lumajang. Ketua terpilih menegaskan bahwa rapat kerja ini bukan sekadar seremonial, melainkan langkah taktis untuk merumuskan arah kebijakan program kerja selama tiga tahun ke depan. Sinergi antarbidang menjadi fokus utama agar visi besar organisasi dapat diturunkan menjadi aksi nyata yang berdampak langsung pada masyarakat. Pertemuan ini sekaligus menandai babak baru bagi ekosistem kreatif lokal untuk bergerak lebih terstruktur dan progresif.

Salah satu fondasi utama yang menjadi sorotan tajam dalam rapat kerja ini adalah urgensi digitalisasi bagi para pelaku ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Lumajang. Pengurus menggarisbawahi bahwa di era modern ini, adopsi teknologi digital bukan lagi sebuah pilihan melainkan kebutuhan mutlak untuk memperluas pasar. Tanpa sentuhan digitalisasi, produk-produk unggulan lokal Lumajang dikhawatirkan akan sulit bersaing dan tenggelam di tengah derasnya arus kompetisi global. Oleh karena itu, Gekrafs berkomitmen penuh untuk menjadikan transformasi digital sebagai pilar utama dalam setiap program pemberdayaan yang dirancang seiring dengan konsep yang diusung yaitu membawa warisan budaya dan ekraf lumajang dikenal oleh dunia internasional. Langkah awal yang akan diambil adalah menyusun peta jalan digitalisasi yang inklusif agar dapat menjangkau seluruh lapisan pelaku usaha.

Namun, tantangan besar menghadang di lapangan karena mayoritas pelaku ekraf di Lumajang saat ini masih belum terdata secara akurat oleh sistem. Ketidaktersediaan basis data yang valid ini menjadi kendala utama pemerintah maupun organisasi dalam menyalurkan program bantuan dan pembinaan yang tepat sasaran. Selain masalah pendataan, kendala sosiologis yang ditemukan adalah masih banyaknya pelaku usaha mikro yang belum memahami sepenuhnya esensi dan keberadaan Gekrafs sebagai wadah pemersatu mereka. Minimnya literasi mengenai peran organisasi membuat ruang kolaborasi antara regulator dan pelaku kreatif di akar rumput menjadi terbatas. Kondisi inilah yang menuntut Gekrafs Lumajang untuk segera turun ke lapangan guna mengikis kesenjangan informasi tersebut.

Menyikapi realitas tersebut, Gekrafs Lumajang periode 2026–2029 langsung tancap gas menyusun strategi jemput bola melalui program sinkronisasi data dan sosialisasi masif. Ke depan, organisasi akan menggandeng dinas terkait serta komunitas lokal untuk melakukan kurasi dan pendaftaran massal para pelaku ekraf ke dalam ekosistem digital. Edukasi mengenai manfaat berorganisasi dan pentingnya go-digital akan dikemas melalui lokakarya interaktif yang menyasar kecamatan-kecamatan di luar pusat kota Lumajang. Dengan pondasi raker yang kuat ini, Gekrafs optimistis mampu mengubah tantangan pendataan menjadi peluang besar demi mewujudkan kemandirian ekonomi kreatif Lumajang yang inklusif dan berdaya saing tinggi.